Ekosistem startup kreatif Indonesia: siapa yang bertahan?
Banyak yang lahir, sedikit yang bertahan lebih dari 3 tahun. Apa yang membedakan mereka? Topik ini bukan sekadar tren pekan ini — ada lapisan yang sering luput dari pembaca awam dan ingin kami bongkar di artikel ini.
Kalau kamu rutin mengonsumsi konten di platform yang sama, pola ini mungkin terasa familiar. Tapi familiar bukan berarti benar — dan kadang justru ketika sesuatu menjadi normalisasi, di situlah pertanyaan paling produktif baru bisa diajukan.
Konteks yang sering hilang
Dalam konteks creative-industry, fenomena ini punya akar yang menarik. Generasi sebelumnya mungkin akan mengernyit, tapi bagi orang-orang yang tumbuh besar bersama internet, ini terasa wajar — bahkan logis.
Yang paling berbahaya dari sebuah tren bukan tren itu sendiri, tapi asumsi diam-diam yang kita serap tanpa pernah benar-benar bertanya.
“Startup yang bertahan bukan yang paling inovatif, tapi yang paling paham distribusi.”
— Pengamat ekonomi kreatif
Pelajaran yang relevan untuk pembaca IdeaLabs
Tren akan datang dan pergi. Yang bertahan adalah orang-orang yang punya kapasitas untuk berpikir kritis sambil tetap terbuka pada hal baru.
Di edisi-edisi mendatang, IdeaLabs akan terus menelusuri topik-topik yang berada di persimpangan budaya, teknologi, dan kehidupan urban Indonesia.
Konsultan brand strategy dengan pengalaman 10 tahun di industri kreatif. Pernah memimpin tim creative di sebuah agency global.